Surat ini diikutsertakan
dalam Sayembara Menulis "Surat Kecil untuk Pak Rektor" yang diadakan
oleh BEM-J Matematika IAIN Raden Intan Lampung, dan meraih Juara II
dalam lomba tersebut.
Kepada
Yth. Bapak Rektor IAIN
Di
Tempat
Assalamualaikum warahmatullah wabarakaatuh...
Apa kabar, Bapak Rektor? Semoga sehat selalu dan dilindungi oleh Allah. Bapak, perkenalkan nama saya Inu Anwardani, mahasiswa Fakultas Tarbiyah Jurusan Pendidikan Matematika Semester IV. Jika saya boleh bertutur, sesungguhnya saya sangat bahagia ketika memasuki kampus hijau nan islami bernama IAIN Raden Intan Lampung. Perasaan bahagia, haru, dan bangga melingkupi segenap hati saya ketika akhirnya saya resmi tercatat sebagai mahasiswa.
Saya bangga dengan almamater saya. Saya bangga membawa nama IAIN di luar sana. Dan saya tanpa ragu meneriakkan panji kebanggan untuk IAIN ketika berada di kampus lain. Meskipun kita semua tahu keadaan kita yang sesungguhnya sangatlah apa adanya, namun membawa nama IAIN bagi saya adalah satu misi besar, yang akan mengekarkan tapak langkah IAIN di mata banyak orang.
Bapak yang terhormat, ingatkah Bapak pada tanggal 6 Januari 2011? Ya, Bapak pasti ingat. Itu kan adalah tanggal dilantiknya Bapak menjadi Rektor IAIN Raden Intan. Sesungguhnya surat ini sudah ingin saya tulis setelah Bapak dilantik menjadi Rektor. Namun karena sesuatu hal, baru hari ini surat ini saya sampaikan. Ketika dilantik menjadi seorang Rektor, yang Bapak rasakan mungkin sama seperti yang saya rasakan ketika saya resmi menjadi Mahasiswa, yakni haru, bahagia, dan juga bangga. Tapi dibalik itu semua tentu terpancang hektaran tanggung jawab yang sangat besar, saya yakin itu. Tugas dan tanggung jawab Bapak sebagai seorang Rektor mungkin melebihi tugas seluruh mahasiswa Bapak di setiap mata kuliahnya. Ya, karena Bapak adalah seorang pemimpin. Karena Bapak adalah seorang yang besar andil yang akan menegakkan rumah megah kita bernama Institut Agama Islam Negeri Raden Intan Lampung.
Bapak, dalam kurun waktu satu tahun setelah Bapak dilantik, rasanya saya belum menemukan pijar dari kiprah yang Bapak ukirkan. Kampus kita kampus islami ya kan, Pak? Tapi kenapa ya kita belum bisa menciptakan nuansa yang benar-benar islami hadir di tengah-tengah kita. Kampus kita kampus Negeri kan Pak? Tapi kenapa ya kok susah sekali untuk mendapatkan beasiswa? Banyak sahabat-sahabat saya yang mempunyai kerabat di pihak Rektorat begitu mudahnya mendapat beasiswa. Dan banyak pula sahabat-sahabat saya yang kecewa setelah menyadari bahwa kampus islami ini belumlah transparan dalam merekrut beasiswa bagi mahasiswanya. Padahal banyak sahabat saya yang harus berjuang kuliah sambil bekerja, hanya untuk dapat bisa makan dan kuliahnya bisa bertahan. Di sisi lain mahasiswa yang mendapatkan beasiswa karena adanya orang belakang sedang bersantai dan berfoya ria. Saya harap Bapak bisa lebih peka dan tegas, untuk menyikapi ketidakadilan yang tercipta karena adanya orang-orang yang bermain di belakang.
Bapak yang terhormat, saya dengar dosen-dosen kita kurang mendapatkan perhatian. Betapa tidak, ada dosen yang mengajar tanpa diberikan tanda jasa. Di Fakultas Tarbiyah, banyak dosen yang selama satu semester mengajar tidak mendapatkan gaji sepeserpun. Tidakkah kita lupa bahwa kita berilmu hanyalah dari mereka. Dan ilmu kita itu akan semakin barakah ketika guru-guru itu kita muliakan dengan memberikan tanda cinta berupa uang yang semestinya. Bukan malah iming-iming gaji yang selama satu semester tertunda-tunda. Bagaimana seorang dosen akan mengabdi dengan hati, jika institusi belum memberikan perhatian yang murni. Bagaimana seorang dosen akan memberikan ilmu dengan kebaikan dan keikhlasan, jika ia bernaung pada kampus yang membuatnya tak nyaman. Saya prihatin kepada nasib dosen-dosen saya yang dengan nafas tegap masih mengabdikan diri untuk mengajar Mahasiswanya, meski tanpa tanda jasa. Semakin membuka mata maka kita semakin sadar tengah mengeja luka kampus kita.
Bapak, betapa inginnya saya memiliki seorang Rektor yang dekat dengan mahasiswanya. Yang mau ngobrol di perpustakaan. Yang sering terjun ke kelas-kelas. Yang tidak malu berjalan ke Fakultas. Yang mau turun ke tempat umum. Dan yang paling terpenting adalah lebih bersahabat dengan mahasiswanya. Selama ini yang saya lihat dimana-mana seorang Rektor selalu memimpin di atas meja-meja Rektorat, berbicara di depan mimbar, dan berdiri di atas podium untuk berkoar-koar, hanya untuk mengokohkan wibawa jabatan, tanpa menengok apa saja yang sudah dihasilkan. Bapak, saya tahu menjadi pemimpin itu memang tidak mudah. Banyak hal yang mesti dikorbankan dan begitu banyak hal harus dipikirkan. Tapi, seorang pemimpin sejati tentu punya banyak siasat untuk mengentaskan segala kebobrokan dan menggantinya dengan suatu kejernihan nilai moral. Itulah sifat pemimpin negarawan, yang membawa barisannya bangkit usai terbenam. Karena memimpin bukan hanya sekedar memakai pakaian jabatan untuk dapat dinilai hebat dan bergaris darah aristokrat oleh orang lain, melainkan adalah suatu amunisi yang dikerahkan untuk membuat institusi menjadi dikenal dan dikenang.
Bapak Rektor yang saya cintai, saya sering membayangkan suatu saat nanti dengan apakah saya akan dikenang? Bagaimana saya akan dikenang oleh sahabat-sahabat saya? Bagaimana saya akan dikenang oleh guru-guru saya? Dan bagaimana saya akan dikenang karena tanggung jawab saya? Bapak, betapa indahnya jika kita tahu kita dikenang orang suatu hari nanti. Dan tahukah, seluruh isi kampus IAIN Raden Intan Lampung tentu akan mengenang Bapak, jika Bapak datang memimpin dengan jiwa Ksatria. Yang membangun dari dalam dengan nuansa keislaman, kedisiplinan, dan kejujuran. Hingga tak ayal kampus nan islami IAIN Raden Intan Lampung ini dapat berkibar dengan tinggi. Dan untuk semua perubahan yang akan terjadi di kampus ini, semuanya berada di tangan Bapak Rektor. Untuk itu Pak, jadilah penyelamat bagi kami semua. Karena mimpi kami adalah kelak kampus ini seperti rumah yang sakinah. Kampusku adalah surgaku. Semoga mimpi saya bukan hanya sekedar harapan belaka...
Selamat memimpin dengan hati, Bapak Rektor yang kami cintai!
Sekian.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh...
* * * * *
Kepada
Yth. Bapak Rektor IAIN
Di
Tempat
Assalamualaikum warahmatullah wabarakaatuh...
Apa kabar, Bapak Rektor? Semoga sehat selalu dan dilindungi oleh Allah. Bapak, perkenalkan nama saya Inu Anwardani, mahasiswa Fakultas Tarbiyah Jurusan Pendidikan Matematika Semester IV. Jika saya boleh bertutur, sesungguhnya saya sangat bahagia ketika memasuki kampus hijau nan islami bernama IAIN Raden Intan Lampung. Perasaan bahagia, haru, dan bangga melingkupi segenap hati saya ketika akhirnya saya resmi tercatat sebagai mahasiswa.
Saya bangga dengan almamater saya. Saya bangga membawa nama IAIN di luar sana. Dan saya tanpa ragu meneriakkan panji kebanggan untuk IAIN ketika berada di kampus lain. Meskipun kita semua tahu keadaan kita yang sesungguhnya sangatlah apa adanya, namun membawa nama IAIN bagi saya adalah satu misi besar, yang akan mengekarkan tapak langkah IAIN di mata banyak orang.
Bapak yang terhormat, ingatkah Bapak pada tanggal 6 Januari 2011? Ya, Bapak pasti ingat. Itu kan adalah tanggal dilantiknya Bapak menjadi Rektor IAIN Raden Intan. Sesungguhnya surat ini sudah ingin saya tulis setelah Bapak dilantik menjadi Rektor. Namun karena sesuatu hal, baru hari ini surat ini saya sampaikan. Ketika dilantik menjadi seorang Rektor, yang Bapak rasakan mungkin sama seperti yang saya rasakan ketika saya resmi menjadi Mahasiswa, yakni haru, bahagia, dan juga bangga. Tapi dibalik itu semua tentu terpancang hektaran tanggung jawab yang sangat besar, saya yakin itu. Tugas dan tanggung jawab Bapak sebagai seorang Rektor mungkin melebihi tugas seluruh mahasiswa Bapak di setiap mata kuliahnya. Ya, karena Bapak adalah seorang pemimpin. Karena Bapak adalah seorang yang besar andil yang akan menegakkan rumah megah kita bernama Institut Agama Islam Negeri Raden Intan Lampung.
Bapak, dalam kurun waktu satu tahun setelah Bapak dilantik, rasanya saya belum menemukan pijar dari kiprah yang Bapak ukirkan. Kampus kita kampus islami ya kan, Pak? Tapi kenapa ya kita belum bisa menciptakan nuansa yang benar-benar islami hadir di tengah-tengah kita. Kampus kita kampus Negeri kan Pak? Tapi kenapa ya kok susah sekali untuk mendapatkan beasiswa? Banyak sahabat-sahabat saya yang mempunyai kerabat di pihak Rektorat begitu mudahnya mendapat beasiswa. Dan banyak pula sahabat-sahabat saya yang kecewa setelah menyadari bahwa kampus islami ini belumlah transparan dalam merekrut beasiswa bagi mahasiswanya. Padahal banyak sahabat saya yang harus berjuang kuliah sambil bekerja, hanya untuk dapat bisa makan dan kuliahnya bisa bertahan. Di sisi lain mahasiswa yang mendapatkan beasiswa karena adanya orang belakang sedang bersantai dan berfoya ria. Saya harap Bapak bisa lebih peka dan tegas, untuk menyikapi ketidakadilan yang tercipta karena adanya orang-orang yang bermain di belakang.
Bapak yang terhormat, saya dengar dosen-dosen kita kurang mendapatkan perhatian. Betapa tidak, ada dosen yang mengajar tanpa diberikan tanda jasa. Di Fakultas Tarbiyah, banyak dosen yang selama satu semester mengajar tidak mendapatkan gaji sepeserpun. Tidakkah kita lupa bahwa kita berilmu hanyalah dari mereka. Dan ilmu kita itu akan semakin barakah ketika guru-guru itu kita muliakan dengan memberikan tanda cinta berupa uang yang semestinya. Bukan malah iming-iming gaji yang selama satu semester tertunda-tunda. Bagaimana seorang dosen akan mengabdi dengan hati, jika institusi belum memberikan perhatian yang murni. Bagaimana seorang dosen akan memberikan ilmu dengan kebaikan dan keikhlasan, jika ia bernaung pada kampus yang membuatnya tak nyaman. Saya prihatin kepada nasib dosen-dosen saya yang dengan nafas tegap masih mengabdikan diri untuk mengajar Mahasiswanya, meski tanpa tanda jasa. Semakin membuka mata maka kita semakin sadar tengah mengeja luka kampus kita.
Bapak, betapa inginnya saya memiliki seorang Rektor yang dekat dengan mahasiswanya. Yang mau ngobrol di perpustakaan. Yang sering terjun ke kelas-kelas. Yang tidak malu berjalan ke Fakultas. Yang mau turun ke tempat umum. Dan yang paling terpenting adalah lebih bersahabat dengan mahasiswanya. Selama ini yang saya lihat dimana-mana seorang Rektor selalu memimpin di atas meja-meja Rektorat, berbicara di depan mimbar, dan berdiri di atas podium untuk berkoar-koar, hanya untuk mengokohkan wibawa jabatan, tanpa menengok apa saja yang sudah dihasilkan. Bapak, saya tahu menjadi pemimpin itu memang tidak mudah. Banyak hal yang mesti dikorbankan dan begitu banyak hal harus dipikirkan. Tapi, seorang pemimpin sejati tentu punya banyak siasat untuk mengentaskan segala kebobrokan dan menggantinya dengan suatu kejernihan nilai moral. Itulah sifat pemimpin negarawan, yang membawa barisannya bangkit usai terbenam. Karena memimpin bukan hanya sekedar memakai pakaian jabatan untuk dapat dinilai hebat dan bergaris darah aristokrat oleh orang lain, melainkan adalah suatu amunisi yang dikerahkan untuk membuat institusi menjadi dikenal dan dikenang.
Bapak Rektor yang saya cintai, saya sering membayangkan suatu saat nanti dengan apakah saya akan dikenang? Bagaimana saya akan dikenang oleh sahabat-sahabat saya? Bagaimana saya akan dikenang oleh guru-guru saya? Dan bagaimana saya akan dikenang karena tanggung jawab saya? Bapak, betapa indahnya jika kita tahu kita dikenang orang suatu hari nanti. Dan tahukah, seluruh isi kampus IAIN Raden Intan Lampung tentu akan mengenang Bapak, jika Bapak datang memimpin dengan jiwa Ksatria. Yang membangun dari dalam dengan nuansa keislaman, kedisiplinan, dan kejujuran. Hingga tak ayal kampus nan islami IAIN Raden Intan Lampung ini dapat berkibar dengan tinggi. Dan untuk semua perubahan yang akan terjadi di kampus ini, semuanya berada di tangan Bapak Rektor. Untuk itu Pak, jadilah penyelamat bagi kami semua. Karena mimpi kami adalah kelak kampus ini seperti rumah yang sakinah. Kampusku adalah surgaku. Semoga mimpi saya bukan hanya sekedar harapan belaka...
Selamat memimpin dengan hati, Bapak Rektor yang kami cintai!
Sekian.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh...
Salam hormat,
Inu Anwardani
Tidak ada komentar:
Posting Komentar